Senin, 13 April 2015

Coba mengabaikan

Sore ini aku mendapatkan email yang cukup membuatku bahagia, aku sempat beberapa detik tak berkedip memperhatikan layar ipadku. Mencoba mengeja dengan teliti setiap tulisan yang tertera dilayar, air mata haruh bahagia menetes. Aku tak menyangka akhirnya naskahku di acc oleh salah satu penerbit, ternyata usahaku tidaklah sia-sia, sebuah buku yang aku tulis akan segera dirilis.

Mencoba memposting isi perjanjian dari penerbit di akun path pribadiku, begitu banyak ucapan selamat yang terlontar dari para sahabatku tercinta. Sungguh aku bahagia, setidaknya kini kualitas akan diriku bertambah dan patut diperhitungkan keberadaannya. Aku pun merasa kini cukup hebat, mampu membawa energi positif untuk diriku sendiri dan semoga menular untuk banyak orang disekeliling.

Mungkin aku bukanlah wanita dengan paras cantik, atau kulit putih mulus tinggi semampai. Aku tidaklah seperti itu, aku hanya wanita biasa saja. Ketika aku tengah bahagia dengan apa yang telah ku capai, tiba-tiba aku teringat kamu. Dari segitu banyak ucapan selamat untukku kamu orang satu-satunya yang sampai saat ini belum memberiku selamat atas prestasiku.

Entah apa yang aku harapkan darimu, sebuah hadiah spesial kah? Buket bunga atau bahkan pelukan hangat sembari berkata "selamat yah sayang" aahhh... Itu rasanya terlalu berlebihan dan tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin kamu memberiku ucapan selamat dari kejauhan saja cukup. Sebuah pesan singkat darimu itu sudah membuatku tersenyum bahagia, tak perlu muluk-muluk berharap hal sepele saja belum tentu itu terjadi. Iya karena aku hafal betul kamu seperti apa.

Kalau orang dengan senangnya menyanjungku, karena mungkin aku pantas untuk mendaptkan itu. Tapi tidak bagi kamu aku biasa saja, meski sudah segudang prestasi yang aku dapatkan tetap  dimatamu aku wanita yang biasa saja. Aku tidak menyalahkanmu tentang sifatmu itu, tapi aku yang belajar untuk tidak usah mengharapkan sebuah apresiasi darimu. Apapun bentuknya kamu tidak akan memberiku sesuatu yang menarik, sebuah ucapan saja mungkin enggan kamu berikan. Aku pun coba mengabaikan hal itu, karena kini bagiku kamu tidak sepenting dulu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar