Rabu, 06 Mei 2015

Aku benci kamu


Aku benci sama kamu, laki-laki yang tiba tiba hadir begitu saja dalam hidupku dan seolah kamu menjadi pahlawan. Aku benci sama kamu karena kamu mengiasi hari hariku selama beberapa minggu belakang ini, kamu bak pahlawan yang datang untung menolongku, menggandeng tanganku dengan erat, membelaku didepan orang banyak, dan menyelamatkanku dari bahaya. Sungguh aku benci sama kamu, benci karena kenapa harus kamu yang hadir? Benci karena kenapa kamu yang menjadi pahlawan disiang bolongku? Benci karena kenapa harus kamu yang menggantikan dia dihatiku?

Kamu malaikat yang tak rupawan, bahkan jauh dari kata baik, tetapi kamu nyaris sempurna dimataku. Kamu melindungiku dari jahatnya dunia, kamu menjagaku dari hari yang melelahkan, kamu memayungiku saat aku kehujanan bahkan kamu menerbangkan aku ke negeri khayangan saat aku terpuruk. Pria dengan kulit yang sangat gelap, kurus dan tinggi badan yang cukup itulah kamu wajah tak tampan otak tak begitu cerdas, makna bicara yang kadang semeraut bak angkutan umum pakir sembarangan dibahu jalan yang tidakk jelas maksudnya apa.

Hey kamu, pria rusuh yang beberapa minggu ini menghiasi hari hariku dengan penuh canda tawa, dengan kenyamanan dan kehangatan tubuhmu. Di dekapmu sungguh aku begitu senang, kamu berhasil mencuri sebagian kesedihanku dan menggantikannya dengan senyum semeringah. Entah ini cinta atau hanya sekedar sayang yang jelas aku berharap kamu akan terus seperti ini memperlakukan aku, tak banyak harapku. Aku hanya ingin kamu dan aku bisa saling jatuh cinta, saling mengerti, saling menyayangi, saling melindungi dan saling menjaga satu sama lain.

Kamu cuek tapi kamu penyayang, kamu keras tapi kamu begitu sabar, kamu bodoh tapi mau belajar. kamu kamu kamu iya kamu saat ini aku sedang kenulis tentang kamu! Begitu banyak hal yang kini aku ingin tulis mengenai dirimu, mengenai antara aku dan kamu. Kamu bukan sekedar bahan tulisanku tetapi aku menulis karena kamu layak untuk masuk dalam otakku lalu menjadikan kamu inspirasiku menulis.

Selasa, 14 April 2015

Cinta,cinta cinta

Sejarah mencatat cinta tidak mengenal
Akan kasta, ataupun kedudukan
Cinta, hal yang selalu mampu membuat
Orang lupa akan statusnya
Cinta, satu-satunya hal yang kadang
Diluar logika, tidak ada satupun
Manusia mampu menghindar
Dari cinta, ataupun mengatur
Cinta seenak yang kita
Inginkan
Cinta, cinta cinta
Sungguh lima huruf seribu makna
Datang kadang tanpa diminta
Pergi kadang sebelum diinginkan
Cinta selalu berhasil membuat
Setiap anak adam dan hawa
Dibawah lorong langit
Berbahagia
Tapi tak jarang pula air mata
Kesedihan mengiringi

Senin, 13 April 2015

Senang berkata"karena"

Satu bulan lebih kita tidak bertemu, sedang apa kah kamu disana kesatriku? Apa postur badanmu sudah lebih berisi? Apa kamu bahagia bersama wanitamu? Apa kamu merindukan aku? Rasanya ingin sekali tahu apa saja yang kamu lakukan disana, aku tidak lagi mengirim pesan untukmu sekedar email juga tidak lagi ku kirimkan. Karena aku tidak mau membuat luka ini bertambah basah, ingin segera mengering lalu biarkan bekasnya perlahan menghilang.

Kamu satu-satunya pria yang selalu senang mendengarku berkata"karena", setiap kali kamu memintaku berulang-ulang menyebutkan kata itu, setiap kali aku tanya padamu.

"Kenapa sih kok kamu seneng dengar aku bilang"karena"?
"Senang aja, kamu selalu beda dengan yang lain kalau bilang itu. Mengdengarnya enak saja" itu ujarmu, yang selalu membuatku tersipu malu.

Wajah penuh keluguan begitu melekat diparasmu, postur tubuh yang lumayan gagah dan juga warna kulit yang pas untuk seorang laki-laki menempel dikamu. Kesatriku, kemarin aku terlambat mengucapkan selamat bertambahnya umur untukmu. Karena aku bukanlah wanitamu, aku hanya hiburan semata tak perlu lah jadi yang pertama untuk mengucapkan. Kenyataan bahwa kamu begitu menyanyangi aku tak bisa kamu pungkiri, namun kamu tidak mungkin pula meninggalkan wanitamu. Dan aku tidak mau menjadikan diriku seorang yang merebut kamu darinya, biar saja aku dan kamu sama-sama mengukir cerita dihati masing-masing tanpa seseorang pun yang tahu.

Cerita kamu dan aku bak sebuah misteri, sebagian orang tahu tapi kebanyakan dari mereka juga tidak tahu sebenarnya seperti apa. Hanya kamu aku dan tuhan saja yang sesungguhnya tahu, aku tidak perlu kamu memperkenalkan aku sebagai pacarmu. Aku tidak perlu kamu memanggilku dengan sebuatan"sayang","beby" dll, bagiku mendengar suara lembutmu itu sudah cukup menyapa hatiku yang kosong. Desiran suara obak yang begitu bergemuruh berbanding terbalik dengan suaramu yang begitu lembut bak pasir dipinggiran bibir pantai. Meski cerita antara aku dan kamu sebuah misteri yang tidak tahu kapan mulainya dan kapan diakhirinya, setidaknya kamu memberiku bahan untuk menulis karena kamu berkesan dihatiku.

Coba mengabaikan

Sore ini aku mendapatkan email yang cukup membuatku bahagia, aku sempat beberapa detik tak berkedip memperhatikan layar ipadku. Mencoba mengeja dengan teliti setiap tulisan yang tertera dilayar, air mata haruh bahagia menetes. Aku tak menyangka akhirnya naskahku di acc oleh salah satu penerbit, ternyata usahaku tidaklah sia-sia, sebuah buku yang aku tulis akan segera dirilis.

Mencoba memposting isi perjanjian dari penerbit di akun path pribadiku, begitu banyak ucapan selamat yang terlontar dari para sahabatku tercinta. Sungguh aku bahagia, setidaknya kini kualitas akan diriku bertambah dan patut diperhitungkan keberadaannya. Aku pun merasa kini cukup hebat, mampu membawa energi positif untuk diriku sendiri dan semoga menular untuk banyak orang disekeliling.

Mungkin aku bukanlah wanita dengan paras cantik, atau kulit putih mulus tinggi semampai. Aku tidaklah seperti itu, aku hanya wanita biasa saja. Ketika aku tengah bahagia dengan apa yang telah ku capai, tiba-tiba aku teringat kamu. Dari segitu banyak ucapan selamat untukku kamu orang satu-satunya yang sampai saat ini belum memberiku selamat atas prestasiku.

Entah apa yang aku harapkan darimu, sebuah hadiah spesial kah? Buket bunga atau bahkan pelukan hangat sembari berkata "selamat yah sayang" aahhh... Itu rasanya terlalu berlebihan dan tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin kamu memberiku ucapan selamat dari kejauhan saja cukup. Sebuah pesan singkat darimu itu sudah membuatku tersenyum bahagia, tak perlu muluk-muluk berharap hal sepele saja belum tentu itu terjadi. Iya karena aku hafal betul kamu seperti apa.

Kalau orang dengan senangnya menyanjungku, karena mungkin aku pantas untuk mendaptkan itu. Tapi tidak bagi kamu aku biasa saja, meski sudah segudang prestasi yang aku dapatkan tetap  dimatamu aku wanita yang biasa saja. Aku tidak menyalahkanmu tentang sifatmu itu, tapi aku yang belajar untuk tidak usah mengharapkan sebuah apresiasi darimu. Apapun bentuknya kamu tidak akan memberiku sesuatu yang menarik, sebuah ucapan saja mungkin enggan kamu berikan. Aku pun coba mengabaikan hal itu, karena kini bagiku kamu tidak sepenting dulu. 

Sabtu, 11 April 2015

Kalut rasanya

Entah mengapa aku seperti orang kalut, ingin menangis tapi entah apa yang harus ditangisi? Ingin tersenyum tapi engga bisa, ingin pejamkan mata untuk istirahat juga engga bisa, seperti aneh rasanya.
Semuanya campur aduk, perasaan aneh ini kembali hadir setiap kali membaca bbm mu yang sangat datar. Aku kan bukan wanitamu lagi jadi wajar saja kalau kamu sangat datar dan singkat menjawab bbm dariku, kenapa aku harus kalut? Entahlah aku sendiri saja bingung. Sungguh perasaan ini membuatku sakit kepala, engga tahu harus bagaimana.

Kenapa sih kamu masih saja membuatku seperti ini setelah hampir satu tahun engga berjumpa dan mengakhiri semuanya? Kenapa sih rasa yang bak es campur ini masih saja melekat di aku? Masam, manis dingin rasanya terlalu banyak hingga aku kalut. Ingin menulis saja engga tahu ingin menulis apa, ingin cerita tak ada lagi orang yang ingin mendengar ceritaku tentangmu. Mereka saja sudah jengah bahkan muak. katanya masa kamu lagi kamu lagi selalu cuma kamu. Tapi aku engga jenuh, aku masih milik kamu meski kini kamu bukan milikku lagi. Dan aku masih senang bercerita tentangmu juga menulis semua tentangmu, karena kamu inspirasiku.

Kalut sangat kalut, menemui persimpangan yang membuatku harus memilih. Tetap bersabar menunggumu atau aku berlari dengan pria lain dan mengubur cerita tentangmu bersama cintaku untukmu. Terasa sekali perasaan canggung dan tidak enak, terkesan aku banyak merepotkanmu. Membaca bbmu saja sudah membuatku kalut, bagaimana dengan kalau aku bertemu dengamu lalu kamu berbicara mengenai itu? pasti saat itu juga bagiku bumi bagai berhenti berputar, entah apa yang akan terucap dari mulutku ini. Mungkin hanya diam seribu bahasa karena sungguh aku terlalu kalut dibuatmu.

perih rasanya

Untuk kamu yang jauh disana

Ini malam minggu? Aku hampir saja lupa kalau dalam tujuh hari itu ada hari yang dinamakn malam minggu, hhhmmmm... Sungguh mengenaskan rasanya ketika kebanyakan dari wanita sedang malam mingguan dengan prianya, sedangkan aku hanya menikamati malam diteras rumah sembari mendengarkan lagu all of me by john legend. Lirik lagunya mengiris hati banget, seolah mengenai hatiku. Seolah lagu ini ditunjukan untukmu, sepantas itukah kamu untuk ku sanjung? Entahlah....

Tiba-tiba diujung pelupuk mataku sudah terasa butiran siap terjun menuju pipiku, jangan bilang kalau aku ingin menangis. Iya aku menangis tiap kali duduk dan mengingat tentangmu, kamu terlalu menyakitkan tetapi terlalu indah untuk begitu saja dilupakan. Puluhan orang bahkan ratusan orang diluar sana bilang kalau kamu tidak baik, kalau kamu tidak pantas untuk aku tapi sungguh hatiku tak sependapat dengan mereka. Aku, aku terlalu memcintaimu bahkan sampai aku tidak tahu lagi harus berkata apa agar kamu tahu tentang isi hatiku.

Tak kuat lagi aku menahan tangis, ingin rasanya aku bertanya padamu. Apakah masih ada cinta yang tersisa di hatimu untukku? Apa yang kurang dariku? Tidak bisakah kita kembali mengulang kisah cinta kita dengan format baru? Aku terlalu lemah tanpamu, kamu selalu merasuk masuk kedalam otakku, tiap jengkalnya terisi olehmu. Wanita seperti apa yang sedang kau cari? Bisa kah aku menjadi seperti wanita yang kamu inginkan?

Perih rasanya kala tahu kamu tak lagi menginginkan aku, sementara aku disini masih begitu menginginkan kamu. Sakit rasanya kala aku tahu kamu telah bahagia dengan wanita lain sementara aku disini masih belum mampu memulai dengan pria lain. Kamu telah merenggut semua yang aku miliki, lalu apa lagi yang harus aku bagi untuk pria lain? Andai aku bisa membencimu dan melupakanmu ingin rasanya aku lakukan hal itu.

sayur orang sakit

Sabtu siang, aku yang tengah sibuk menyelesaikan tulisanku, memutuskan berhenti sejenak untuk makan siang. Suara mamah sudah terdengar memanggilku untuk segera makan karena tadi pagi, aku tidak sarapan. Beranjaklah aku untuk mengambil makan, meninggalkan laptop untuk sebentar. Menu makan siang ini sop oyong kuah bening mix bakso, hhmmm... Tiba-tiba aku mengingatmu, dulu kamu selalu menyebut masakan ini dengan sayur orang sakit. Karena kuahnya bening polos tanpa sambal macam makanan orang sakit itu ujarmu.

Rasanya sudah berapa tahun silam, hampir saja aku lupa mengenai sayur ini, kamu selalu membeli oyong untuk aku buatkan sop oyong kuah bening. Apa kamu mengingat itu? Seperti aku mengingat akan hal itu? Aku ingin rasanya bisa membuat sop oyong ini untukmu seperti dulu, tapi itu tidak mungkin. Kamu saja sudah berbahagia dengan wanita lain dan aku tak mau lagi menyakiti diriku sendiri untuk bersama mu, cukup sayur ini saja yang terlihat hambar namun memiliki banyak rasa. Semoga kamu disana merasakan masakan seenak buatan aku bersama wanita lain.